Tua di Jalan (2)

Melanjutkan tulisan sebelumnya mengenai tua di jalan, ada lagi permasalahan lalu lintas yang membuat semakin tua di jalan. Masalah tersebut adalah tenggang rasa (toleransi) di jalan dan kepatuhan terhadap rambu lalu lintas.

Untuk yang pertama, rasa toleransi kita di jalan sangat berkurang, semua pengendara merasa yang paling berhak dan diprioritaskan di jalan. Misalkan di perempatan jalan yang tidak ada rambu lalu lintas, seringkali kita melihat tidak ada yang mengalah, maunya diberi jalan dahulu. Begitu juga dengan perlakuan terhadap orang yang akan menyeberang jalan. Bila orang itu tidak punya nyali bisa jadi dia tidak akan sampai ke seberang jalan. Belum lagi mudahnya pengendara membunyikan klakson dan lampu jauh yang membuktikan ketidaksabaran pengendara.

Lebih parah lagi untuk masalah kedua. Peraturan dibuat untuk dilanggar. Jalur busway diterobos, parkir di tempat terlarang, menerobos lampu merah, melawan arus, dll. Akibatnya jalan yang sudah macet menjadi semakin semrawut.

Tuhan itu maha adil. Di dunia ini ada kaya dan miskin, ada ganteng dan jelek, ada tua dan muda, ada hujan dan panas, ada teratur dan semrawut, ada damai dan perang. Sayangnya untuk masalah lalu lintas ini Jakarta kebagian yang semrawut😦 Tapi kita bisa mengubahnya bila kita mau berusaha dan berdoa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s