Pengemis Musiman

Saya membaca berita tentang pengemis musiman yang ada selama bulan ramadhan. Di berita itu disebutkan bahwa pendapatan mereka bisa mencapai minimal Rp. 500rb sehari, kalau dalam sebulan bisa mencapai Rp. 15jt. Sungguh suatu angka yang fantastis bagi seorang pengemis bila dibandingkan dengan UMR yang hanya Rp. 2,2jt. Sesuai dengan prinsip ekonomis yaitu dengan usaha sekecil-kecilnya mendapat hasil maksimal. Saya baca juga bahwa pengemis musiman ini mempunyai rumah yang bagus di kampung halaman.

Adakah yang salah dengan fenomena ini? Tentu saja ada. Kultur pemalas yang ada di pengemis memamfaatkan sifat pemurah dan perasaan kasihan dari pemberi sedekah. Banyak pengemis yang sebenarnya masih bisa bekerja dan bahkan ada yang pengemis yang berpura-pura cacat untuk mendapatkan simpati.

Bagaimana mengatasi masalah ini? Seperti pepatah ada gula ada semut, hal yang sama terjadi pada masalah pengemis musiman ini. Sebaiknya bila kita mau memberi sedekah sebaiknya ke lembaga yang berkompeten dan mampu menyalurkan kepada yang berhak. Bila kita memang mau memberi langsung, kita harus mengetahui bahwa yang akan kita beri memang berhak menerimanya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s